Monday, June 22, 2009

Ayah Part 1 - 18 Jun 2009

Setiap tahun ia datang namun semuanya hanyalah satu ketika yang kadang-kadang berlalu begitu saja. Tahun ini aku ingin catatkan satu nota agar aku ingat. Itupun hari sebenar telahpun berlalu tapi tak apa.

Bulan Jun adalah satu bulan yang aku dan arwah ayah sama-sama menyambut hari ulangtahun cuma aku terdahulu 10 hari. Kalau ayah masih ada umur ayah ialah 81 tahun - 18 Jun 1928. Untuk bulan ini dan kali ini aku ingin merenung sejenak dan bercerita tentang ayah.

Bila kuperah ingatan aku kepada ayah, aku masih boleh ingat mukanya, bau peluhnya bila pulang dari sekolah, kerut mukanya bila bangun dari tidur, gaya atur langkahnya ke sekolah menunggu bas. Ayah tak punya kereta. Harapkan bas atau menumpang kawan sesama guru pergi mengajar sampai pencen. Ya, jika aku tumpu ingatan ku, banyak lagi yang rasanya boleh ku ingat. Baju melayu kain pelikat dengan songkok untuk menghadiri khenduri doa selamat. Seluar panjang pergi kesekolah...dan beg Echolac penuh dengan kertas dan buku - buku. Thermos.... dll.

Ayah tak suka bercakap banyak tapi bila bercerita boleh tahan juga. Cerita askar Jepun, cerita bawa beras tengah malam di Kampung Teluk, cerita perang askar Nazi, cerita 13 Mei bagaimana gas pemedih mata di bawa angin ke rumah dri seberang jalan, aku jadi jadi biru muka. Cerita Wa Man, Lahar Minyak. Not bad to think it over. Exciting and I would keep continue listening and once in a while ayah and mak diverted to some part of their own stories; only they would understand.

Ayah loved photography very much. His collection of vintage cameras include Zeiss Ikon, Rolleicord, Minolta Autocord, Edixa and some other small cameras that I found like toys. He kept on telling me of his one camera that lost in a shop; can't remember the name. Once in a while ayah brought home camera that I didnt know where he got it from, he told me that his friend borrowed him for testing. Camera accessories? - a lot but pity not all were in good working order. Sunpak flash took a long time to fire. Pity him with all the gadgets that sometimes I think he was embarrassed - but as usual he moved on. Kakak kata hobi ayah hobi orang kaya, tapi dengan gaji cikgu mana mampu nak tambah collections. Dah pulak tu, to print photos pakai duit lagi. Ayah selalu ambil gambar sukan di sekolah, hari penyampaian hadiah dll, tapi yang paling kelakar - semua gambar orang lain; gambar ayah sendiri tak ada.

Ayah was a scout master during his younger days, can't remember what year. When I was small I had a chance to wear ayah's uniform in light brown (warna macam buah langsat), Ada topi macam Baden Powell pakai.Scarves, ring, badges etc. Don't know the name for that. Oh yes, the Scout's knife. Well kept.....where is it now, I don't know.

Ayah suka dengar lagu Minangkabau and Sunda. Mendayu-dayu and ayah jadi layu. Mungkin sayu dan bagi aku memang lagu-lagu yang ayah dengar banyak yang sayu. Ada yang tersirat dalam hati ayah tak terluah mungkin.



Ayah banyak bercakap bahasa Jepun dan German. Ada jugak Esperanto. Correspondence tapes dari sahabat luar negeri banyak. That was in 70's and they were exchanging tapes. Now we call podcast. Nama kawan ayah yang selalu dengar Hartmutt Klette from Germany. Anak kawan ayah ada jugak yang lebih kurang sama umur dgn aku; Andrea Scheppers from Duisburg,Germany Ramai lagi kawan-kawan ayah masa tu. Ayah guna Sony open reel tape recorder untuk dengar muzik dan buat recording. Recording di rumah macam buat live telecast kat F1 circuit. You could hear real good sound effect of Moto GP at the background. Sometimes you could hear lorries. Well, we lived in a kampung house very near to the road.

To be continued..........

No comments: